Zikir Pawang Hujan, Salah Satu “Penggawa” Keberhasilan Asian Games

Marsudi, Sang Pawang Hujan

MATA ANGIN, PALEMBANG – Puluhan Polisi Pamong Praja berjaga di pintu masuk Pelabuhan Boom Baru, Palembang, Sumatra Selatan. Mobil pelat merah silih berganti melintasi gerbang pelabuhan.

Sore itu, Jumat 20 April 2018 silam ada acara serah terima–dari Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Provinsi Sumsel–gerbong Light Rail Transit (LRT) di Pelabuhan Boom Baru.

LRT pertama di Indonesia itu merupakan salah satu fasilitas pendukung Asian Games 2018—Palembang jadi tuan rumah bersama Jakarta kala itu.

Beberapa pembesar hadir dalam seremoni kala itu masih dijabat oleh Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Gubernur Sumsel Alex Noerdin, dan Ketua INASGOC (komite pelaksana Asian Games) Erick Thohir.

Di antara mobil-mobil kiwari berpelat merah, Daihatsu Taft keluaran 1995 menyelip dalam antrean di gerbang pelabuhan. Seorang pria sepuh tampak di balik kemudinya.

Kami mengekor dan bertemu pengemudi Taft hitam itu di area parkir pelabuhan. Ia pakai setelan baju koko hijau, celana hitam, dan peci haji putih.

Pria berusia 68 tahun itu menyambut kami dengan perkenalan singkat, “Assalamualaikum. Saya Marsudi.”

Sejurus kemudian, ia mendongak ke arah langit demi membaca isyarat awan.

Cuaca Palembang sedang labil. Hujan deras turun pada dini hari. Pun, dari pagi hingga siang, panas hanya sesekali menyela hujan. Jelang sore, di Pelabuhan Boom Baru, mega mendung juga tampak sedia menumpahkan air.

Di bawah langit kelabu, Marsudi berusaha “menunda hujan” dan “mengendalikan awan”. Ia sudah melakoni pekerjaan pawang hujan hampir dua dekade terakhir.

Malam sebelumnya, Marsudi terima telepon dari seorang ajudan petinggi Pemprov Sumsel. Si ajudan berkabar perihal seremoni serah terima gerbong LRT, dan meminta Marsudi ikut mengamankan acara itu.

“Teleponnya agak mendadak. Alhamdulillah, saya sempat bermunajat, salat hajat 12 rakaat. In sya Allah, sore ini belum hujan,” ujar Marsudi, selepas menengok langit.

Kira-kira 15 menit kemudian, perkataan Marsudi jadi kenyataan. Cahaya matahari mulai tampak. Mega mendung berarak menjauh dari langit pelabuhan.

Saat itu, kami sudah duduk di warung kopi kecil pada satu sudut pelabuhan. Marsudi bercerita sambil sesekali meneguk kopi dan mengisap kretek.

Jemari kirinya terlihat tak henti bergerak, seolah menghitung ruas-ruas jari. “Sambil cerita, zikir dan bacaan surat pendek terus dibaca dalam hati. Jangan takabur,” katanya.

Konon ada beberapa pawang hujan di Palembang dan sekitarnya yang terlibat dalam pembangunan venue serta sarana pendukung Asian Games.

Marsudi lahir di Kebumen, Jawa Tengah, pada 17 Mei 1950. Ibunya asli Kebumen, sedangkan bapaknya berdarah Banten.

Lihat Juga :  Isu PUBG Haram, 5 Game Ini Baiknya Juga Difatwa Haram Sekalian oleh MUI

Ia berkelana ke Palembang sejak 1969, mencari penghidupan, setelah jenuh bertani di Jawa.

Sempat kerja serabutan, ia akhirnya dapat pekerjaan tetap di PT Pos Indonesia. Di Badan Usaha Milik Negara (BUMN) itu Marsudi mengabdi selama 24 tahun (1978-2002).

Marsudi mengaku baru menyadari kemampuan mengelola awan dan hujan pada usia 45 tahun.

Waktu itu, ia mulai mengamalkan ajaran turun temurun lewat kakeknya (pihak bapak). Kemampuan macam itu, kata Marsudi, lazimnya meloncat satu generasi—dari kakek langsung ke cucu, tak mampir ke anak.

“Kakek saya memang pawang. Beliau pernah mengajarkan beberapa bacaan kepada saya. Tapi saya baru tahu punya kemampuan itu pas umur 45 tahun. Mungkin saat itu hati dan perilaku saya lebih bersih,” ujarnya.

Namun, lantaran sibuk kerja, Marsudi hanya pakai kemampuannya di lingkungan sekitar: hajatan keluarga, acara kantor, atau sekadar membantu tetangga.

Ia baru benar-benar menerima permintaan “menunda hujan” selepas pensiun pada 2002. “Hujan itu berkah, tidak boleh ditolak. Saya cuma memindahkan atau menunda hujan,” kata dia.

Atas pekerjaannya, Marsudi beroleh upah Rp5 juta per bulan. Kadang, ia dapat bonus “uang rokok” dari para pejabat atau pimpinan proyek.

Warga kelurahan Ilir Barat, Palembang itu mengaku tak pernah pasang tarif atas jasanya. Lagi pula, menurut Marsudi, keluarganya masih berkecukupan. Istrinya hingga kini masih mengajar di sebuah sekolah negeri. Dua dari tiga anaknya juga berstatus pegawai negeri.

Perihal ritual mengatur hujan, Marsudi mengaku “tak punya upacara khusus”.

Lazimnya, ia sekadar duduk-duduk atau keliling lokasi yang hendak dijaga kekeringannya sambil memanjatkan zikir, doa, dan beberapa surat dalam Alquran.

Selain itu, ada dua ibadah yang senantiasa dijaganya: salat hajat 12 rakaat sebelum bertugas, dan puasa Senin-Kamis.

“Pawang hujan macam-macam, ada yang pakai cabe, bawang, dan cobek—biasa disebut ilmu tumbuk. Ada juga yang memelihara benda pusaka,” katanya. “Saya tidak pegang ilmu begitu. Semua yang ada pada saya bersumber dari Allah.” (*)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*