Tujuh Tewas Pascatragedi Susur Sungai, BPBD Teruskan Pencarian

Korban siswa SMP yang berhasil dievakuasi BPBD dan tim setempat. Hingga saat ini BPBD bersama gabungan tim SAR masih melakukan korban yang hilang (FOTO: PUSAT DATA INFORMASI BNBP RI)

MATA ANGIN, SLEMAN – BPBD Kabupaten Sleman terus melakukan pencarian terhadap sejumlah siswa SMP Negeri 1 Turi yang hilang pascakegiatan pramuka dengan menyusuri Sempor Jumat sore (21/2), sekitar pukul 15.30 WIB.

Lebih dari 180 personel dari personel gabungan masih melakukan pencarian 5 murid yang masih harus dikonfirmasi keberadaannya. Personel gabungan menyusuri tepian sungai untuk mencari murid yang masih hilang meskipun dalam kondisi hujan gerimis. Sebanyak 239 murid yang selamat dari insiden telah terdata oleh pihak sekolah dan tim gabungan.

Berdasarkan Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sleman Joko Suprianto menyebutkan bahwa insiden tersebut bermula saat 250 murid SMP Negeri 1 Turi melakukan kegiatan pramuka dengan menyusuri Sungai Sempor yang berada di Desa Donokerto, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman, D.I. Yogyakarta. Ketika melakukan penyusuran tersebut, arus air tiba-tiba deras dan volume air meningkat akibat kiriman dari hulu sungai.

Sungai Sempor yang menjadi area Susur Sungai siswa SMP (FOTO: BNPB RI)

Saat ini BPBD Kabupaten Sleman telah mendirikan pos komando di lokasi kejadian dan terus berkoordinasi dengan Basarnas, TNI, Polri, dinas terkait, sukarelawan dan warga setempat. Data yang dimiliki BPBD setempat hingga hari ini Sabtu (22/2/2020) pukul 04.20WIB , korban selamat 216 siswa, luka luka 23, meninggal dunia 7 siswa dan, belum ditemukan 3 siswa.

Lihat Juga :  Tjahjo ‘Pamitan’ ke Pegawai Kemendagri

Korban meninggal dunia yakni, Sovie Aulia, Arisma Rahmawati, Nur Azizah, Lathifa Zulfaa, Khoirunnisa Nurcahyani Sukmaningdyah, Evieta Putri Larasati dan Faneza Dida.

Menurutnya, insiden ini menjadi pembelajaran bersama sehingga insiden serupa dapat dihindari. Apabila akan melakukan kegiatan penyusuran sungai, ini harus dilakukan oleh orang dewasa dan terlatih.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Bencana BNPB, Agus Wibowo, anak-anak dan remaja dilarang untuk melakukan penyusuran sungai mengingat sangat berisiko tinggi. Perlu juga memberitahu aparat pemerintah dan keamanan setempat. Di samping itu, aktivitas penyusuran dilakukan pada saat musim kemarau. Ketika ini dilakukan pada musim hujan, risiko air menjadi tinggi mengingat apabila hujan terjadi di sekitar hulu sungai akan berdampak pada arus dan volume air sungai hingga ke bagian hilir. (*)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*