Singgah Ke Pesanggrahan Proklamator, Soekarno : Fat, Mas Gemuk atau Kurus ?

Pesanggrahan Bung Karno di Muntok, Bangka Barat (FOTO: MALA ANINDHITA/MATA ANGIN)

MATA ANGIN, MENTOK – Struktur bangunannya masih kental dengan aroma milenial. Ada gerbang yang siap menunggu siapapun yang ingin masuk sebagai penanda jika di lokasi ini merupakan tempat bersejarah.

Pesanggrahan Banka Tin Winning (BTW), namanya. Berada di Jalan Imam Bonjol, Kelurahan Sungai Daeng, Kecamatan Mentok, Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Pasanggrahan , Roemah Persinggahan,merupakan tempat pengasihan Presiden RI yang pertama, Ir Soekarno.

Adalah Anton Sujarwo. Pria berperawakan sedang ini memang kesehariannya didapuk sebagai juru pelihara pesanggarahan Bung Karno ini. Ketika tim Mata Angin melakukan kunjungan, Anton dengan senang hati menjelaskan satu persatu sudut dari ruangan tersebut.

Menurut Anton, pesanggrahan Bung Karno ini merupakan tempat berlangsungnya kompromi terakhir dari persetujuan Roem Roijen.

Menurutnya, bangunan ini dibangun pada tahun 1827 oleh Kolonial Belanda, berfungsi sebagai gedung pengadilan di Mentok. Pada 1851, bangunan dikelola Perusahaan Belanda, Pertambangan Timah Banka. Gedung ini sempat menjadi tempat pengasingan Pangeran dari Pakualaman Kanjeng Pangeran Hario dari Kesultanan Jogja yang menentang pemerintahan Belanda saat itu.

Pada 5 Februari 1949, Presiden Ir Soekarno dan H Agus Salim berangkat dari pengasingan Prapat menuju Bangka, dan tiba di Mentok 6 Februari 1949. “Soekarno dari Prapat dipindahkan dengan menggunakan pesawat Amfibi, mendarat di Pangkal Balam, naik sampan ke darat dan dibawa ke Menumbing menggunakan mobil,” jelas Anton.

Ternyata Ir Soekarno tidak betah di Menumbing. Soekarno membaca situasi, dan mengatakan memiliki penyakit asma untuk dipindahkan ke Pasanggrahan Banka Tin Winning. “Menumbing itu di atas bukit, dingin dan jauh dari masyarakat. Sehingga, Ir Soekarno minta pindah ke pasanggrahan. Sebenarnya, ini strategi Soekarno untuk lebih dekat dengan rakyat,” jelas Anton.

Saat ini, Pasanggrahan Banka Tin Winning sudah didesain seperti ketika Ir Soekarno diasingkan. Setiap ruangan diberikan informasi yang memudahkan pengunjung mengetahui ruangan itu digunakan untuk apa pada masa itu. Selama enam bulan di pasanggrahan, banyak kisah dan upaya yang dilakukan Ir Soekarno bersama tokoh bangsa lainnya dalam meraih kedaulatan Republik Indonesia.

Mesin Jahit yang tersimpan di Pesanggrahan Bung Karno.

Seperti ruangan 1B tempat di mana terpampang foto Soekarno di atas sebuah kursi. Dengan foto ini, Ir Soekarno pernah bersurat kepada Fatmawati. Petikan suratnya berbunyi “Fat, ini adalah gambar Mas pada waktu sehari di Mentok. Kurus ataukah gemuk? Mas”. Pada foto itu terlihat ubin yang sama masih ada hingga saat ini.

Begitu juga dengan foto yang menunjukkan Ir Soekarno bersama rakyat berfoto bersama di halaman depan pasanggrahan. “Terlihat masih ada pagar kawat. Sedangkan Garuda Pancasila yang ada di atas Pasanggarahan yang ada saat ini hanya duplikat saja. Kalau yang aslinya lebih besar dari yang sekarang,” jelas Anton.

Kondisi Pasanggarahan kata Anton, baru rapi pada tahun 2003, setelah ada pemugaran dari Balai Pelestarian Cagar Budaya. Sebelumnya, kondisi Pasanggarahan jauh dari kata layak sebagai tempat bersejarah. Pasanggarahan juga pernah digunakan sebagai asrama PT Timah. “Sebelum saya, yang menjadi juru pelihara tempat ini adalah ayah saya sendiri,” ungkapnya.

Dari data cagar budaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Pasanggrahan Banka Tin Winning juga disebut Wisma Ranggam. Bangunan ini memiliki luas lahan 9000 m2, dan luas bangunan 1500 m2. Pasanggrahan BTW beberapa kali mengalami perubahan dan fungsi. Awalnya dibangun menggunakan kayu. Pada 1924, direnovasi arsitek bernama Antwerp J Lokollo dari Ambon dengan tidak mengubah bentuk dan ukurannya.

Lihat Juga :  Selain Masker, Cairan Pembersih Tangan Jadi Sulit Dicari di Kepulauan Riau

Kemudian, pada 1927, pesanggrahan BTW direnovasi lagi dengan penambahan pada bagian sayap. Pada tahun 1930, arsitek yang sama, BTW membangun kolam renang untuk pegawai dan keluarganya. Selain digunakan untuk mengasingkan Pangeran Hario Pakuningrat, Pesanggrahan Muntok juga digunakan sebagai tempat pengasingan para pemimpin Kemerdekaan Republik Indonesia, Ir Soekarno dan H Agus Salim, Menteri Luar Negeri kala itu, pada 6 Februari 1949.

Pesanggrahan Bung Karno tampak depan

Selain Ir Soekarno dan H Agus Salim tokoh lain yang diasingkan ke Pesanggrahan BTW adalah Mr Moch Roem dan Ali Sastroamidjojo. Empat tokoh pejuang kemerdekaan Indonesia tersebut ditempatkan di kamar yang berbeda-beda. Kamar 12 untuk Ir Soekarno besebelahan dengan kamar 11 untuk H Agus Salim. Sedangkan kamar 12-A ditempati Moch Roem, bersebelahan dengan kamar 1 yang ditempati Ali Sastroamidjojo.

Pada tahun 1976, pasanggerahan BTW diganti menjadi Wisma Ranggam di bawah penguasaan PT Timah. Bangunan ini terdiri atas bangunan utama yang diapit dua bangunan lain di kiri dan kanannya. Ruangan utama memiliki ukuran panjang 32 meter dan lebar 15,6 meter. Ruangan utama memiliki ruangan yang diteruskan ke belakang sebagai ekor yang difungsikan sebagai gudang serta teras belakang. Bangunan di sayap kiri dan kanan masing-masing memiliki ukuran panjang 14 meter dan lebar 8 meter. Bangunan sayap terdiri dari enam ruangan. Atap bangunan induk berbentuk limas sedangkan pada bangunan sayap berupa atap pelana.

Tepat di depan Pasanggrahan BTW, terdapat enam buah tugu berbentuk obelisk. Tugu yang paling tinggi berada di bagian tengah, dikelilingi tugu-tugu lain lebih yang lebih kecil. Ke enamnya membentuk konfigurasi Pentagon. Tugu ini diresmikan Bung Hatta untuk mengenang tokoh-tokoh kemerdekaan yang diasingkan di Muntok.

Tugu yang paling besar mempunyai tinggi 17 meter dan di bagian dasarnya terdapat trap tangga yang terdiri dari 8 anak tangga yang dibuat dari koral batu kali. Di sekelilingnya terdapat pagar pengaman dari pelat besi setinggi 90 cm.

Wisma Ranggam telah beberapa kali mengalami perbaikan-perbaikan untuk menjaga kelestariannya. Pada tahun 1976 dan 1982 ada penambahan ruangan, pada tahun 1998 Kanwil Depdikbud Sumatera Selatan melakukan pemugaran dengan menambahkan bangunan untuk mencegah kerusakan lebih lanjut. Tahun 2002-2004 pemugaran juga dilakukan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jambi dan pada tahun 2007 dilakukan pemintakatan. Pemugaran bagian atap dilakukan oleh Kementerian Perumahan Rakyat pada tahun 2013. Saat ini Wisma Ranggam dimanfaatkan sebagai tempat pendidikan dan pelatihan, serta kunjungan wisata sejarah. (*)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*