Ripto Mulyono, Orang Indonesia pertama di Puncak Aconcagua

Ripto Mulyono berpose di halaman rumahnya di Tapos, Depok, memakai baju tim ekspedisi Indonesia Everest 1997. (FOTO: DOK PRIBADI RIPTO)

MATA ANGIN  – “Nanti kalau di surga, saya pilih naik gunung ketimbang bidadari,” ujar Ripto Mulyono.

Kata-katanya tidak mengalir lancar, seperti kalah oleh kelebatan di pikirannya. “Tapi,” katanya, “lima bidadari boleh, tidak usah 72”.

Dalam sebuah tradisi Islam, seorang martir diriwayatkan dapat beroleh ganjaran 72 bidadari di nirwana. Mul–demikian laki-laki berusia 54 itu dipanggil–tak menganggap dirinya mujahid. Dia sekadar berseloroh sambil menyinggung aktivitasnya selama ini, yakni mendaki gunung.

Jejak kecenderungan Mul pada alam dan kebugaran memang terpampang di kaveling seluas 248 meter persegi di kawasan Sukamaju Baru, Tapos, Depok. Pekarangannya berisi rupa-rupa tumbuhan. Kebanyakan pohon buah. Mangga, cokelat, sawo, alpukat. Efek dari benteng hijau itu terasa. Udara panas seperti tersaring. Angin hanya mengantar kesegaran. Bukan gerutu. Perbincangan dengan Mul di sebuah stasiun beratap spandek selama 1,5 jam pun ujungnya tak bikin pakaian demek.

“Pernah ada kelapa ijo di sini. Tapi, miring ke arah (jalanan). Ngeri ada yang ketiban,” katanya memberi dalil penebangan.

Sejumlah alat gimnastik seperti bench press, standing reflex bag, dan air walker terparkir di stasiun berlantai konblok tersebut. Mul rutin memakainya supaya terus fit. Sebab, penghidupannya bersandar pada kelayakan kondisi jasmani.

Mul bukan nama sepele di ranah pendakian gunung. Dia orang Indonesia pertama menginjak puncak sebuah gunung di Argentina, Aconcagua, yang tingginya 6.960 meter di atas permukaan laut (mdpl). Aconcagua masuk bagian dari tujuh gunung tertinggi dunia yang lazim dilabeli Seven Summits.

Carstensz Pyramid atau Puncak Jaya di Papua, yang bertinggi 4.884 mdpl, tergolong Seven Summits pula. Tetapi, itu versi Reinhold Messner, seorang penjelajah dan pendaki gunung disegani dari Italia.

Messner kesohor karena berbagai aksi. Di antara yang termasyhur adalah pendakian ke 14 puncak gunung di atas 8.000 mdpl tanpa oksigen botolan. Dia kian kondang setelah sanggup jalan kaki melewati Gurun Gobi pada usia 60.

Per 2011, Mul sudah menaklukkan puncak Carstensz 32 kali, dihitung sejak pendakian pertamanya ke sana pada 1989. Dia bilang tahun ini berencana akan ke sana lagi. Itu setelah bertahun-tahun hanya memandu tamu ke gunung-gunung yang cuma mensyaratkan “soft trekking”.

Pada 1997, Mul tergabung dalam tim ekspedisi Indonesia ke Everest, tujuan pamungkas para pendaki sejagat, yang berisi 16 orang. Pada 8.848 mdpl, gunung bersemayam di Nepal dan Tibet itu tercatat sebagai yang tertinggi di dunia.

Namun, dalam proyek kolaborasi antara Komando Pasukan Khusus (Kopassus) dan sipil itu, Mul tak menginjakkan kaki di puncak. Dia belaka berakhir di Geneva Spur, sebuah padas sempit berketinggian 7.600-7.900 mdpl bersama beberapa anggota tim lain. Peraih pucuk jabal berjuluk Kepala Langit itu Asmujiono. Saat itu, pangkatnya Prajurit Satu (Pratu).

“Everest lebih ganas dari Aconcagua. Full es. Benar-benar es besar,” katanya sembari bilang bahwa sepulang dari sana, dia jadi “mudah marah”.

Petualangan Mul tak hanya memberinya pengalaman berharga, tapi juga pertemanan. Selama mendaki, dia bersua dan berhubungan dengan pendaki-pendaki internasional berwibawa seperti Junko Tabei, Anatoli Boukreev, Rob Hall, dan Yasuko Namba, demi menukil beberapa.

Pemilik nama-nama itu sudah wafat. Tabei pada 2016. Hall dan Yasuko pada 1996. Boukreev pada 1997. Ihwal Boukreev, dia terkenal sebagai pendaki cepat dan mahir menaklukkan salju, es, bebatuan di segala musim tanpa cadangan oksigen. Pada 1996-1997, dia melatih tim Indonesia untuk mencapai Everest.

Bagaimanapun, namanya paling dikenang pada paruh awal 1996 ketika melakukan penyelamatan gemilang atas tiga pendaki pada peristiwa yang dikenal sebagai Tragedi Everest. Peristiwa sama itu menewaskan delapan orang, termasuk Hall dan Namba.

Pada 2015, Everest, film yang bertopang pada insiden tersebut, ditayangkan di seluruh dunia.

“Di film Everest itu, sembilan orang saya kenal baik. Dan naik bareng,” ujar Mul.

Mendaki sejak di SMA

Mulanya, Mul tak pernah membayangkan bakal melakoni pendakian di sejumlah gunung Seven Summits. Putra seorang pekerja konstruksi–yang pernah mendapat piagam dari Presiden Sukarno karena ikut membangun Samudra Beach Hotel, Sukabumi, Jawa Barat–itu bahkan sempat merasa jera mendaki setelah diajak abangnya ke puncak Gede dan Pangrango di Jawa Barat. “Itu 1982. Capek banget. Bayangin aja, naik Gede, terus Pangrango, terus turun di Salabintana. Bawa barang buat 5-6 hari,” ujarnya.

Tetapi, rupanya, letih hilang, candu pun terbilang. Pelajar SMA 16, Palmerah, itu menyadari ada bagian dirinya yang menuntut untuk kembali mendaki. Ketagihan, katanya. Maka, kala waktu dan peluang datang bertepatan, dia selalu mengupayakan naik. “Setelah lulus SMA, saya mencatat 52 kali naik Gede,” katanya.

Pernah satu waktu pada 1983, dia menyelingi kegiatan mendaki dengan ikut lomba lintas pantai. Semacam gerak jalan, tapi menyusuri pantai. Rute yang ditempuh, Muara Gembong – Karawang – Jakarta. Namun, karena ada musibah, timnya kena skors. Termasuk dia.

Bagaimanapun, ‘kegilaan’ semacam itu dia pelihara sebagai bahan bakar ambisinya untuk menebus satu bangku di Universitas Indonesia (UI). Mul merasa masuk UI karena kampus negeri itu memiliki Mapala, unit kegiatan mahasiswa yang melahirkan sosok-sosok beken seperti Soe Hok Gie, Herman O. Lantang, dan Norman Edwin.

Mul memilih jurusan yang menurutnya tak banyak dilirik demi memperlebar celah kelulusan: Sejarah. Di saat bersamaan, dia sudah diterima di Akademi Ilmu Pemasyarakatan. Kelak ketika diterima di UI pada 1984, dia pilih cabut dari akademi tersebut. “Kuliah nomor dua, nomor satu Mapala. Masa depan nomor dua, yang penting happy,” ujarnya.

Menjajal Carstensz

Sialnya, mahasiswa baru tak boleh langsung bergabung ke Mapala UI. “Baru bisa setelah tingkat dua,” kata Mul. Sebelum terdaftar sebagai anggota Mapala, Mul sudah menggenggam ilmu pendakian yang diperoleh secara autodidaktik. Portofolionya pilih tanding. Selain sudah puluhan kali ke Gede, dia telah mendaki semua gunung di Jawa plus Rinjani di Nusa Tenggara Barat.

Setelah diterima Mapala dengan nomor keanggotaan M-345-UI, kepandaian Mul bertambah. Sebab, di sana dia beroleh pengetahuan mengenai pelayaran, penjelajahan gua, penyelaman, dan panjat tebing. Terlebih lagi, dia bertemu salah satu idolanya, Norman Edwin (M-116-UI), seorang wartawan harian Kompas. Pada dekade 1980-an, Norman acap kali menulis mengenai aktivitas jelajah alam di berbagai media cetak.

Pada sekitar 1988-1989, Mul turut dalam ekspedisi Mapala UI ke Carstensz Pyramid dengan kepala regu Hardiman Rico. Perjalanan itu berada di bawah bayang-bayang tewasnya empat anggota Ekspedisi Aranyacala Universitas Trisakti pada 1987 oleh orang-orang yang dicap pemerintah sebagai pengacau keamanan.

Persiapan ke sana spesial terutama karena ketinggian gunungnya, yang nyaris mencapai 5.000 mdpl. Ancang-ancang fisik harus matang. Latihan digelar minimal enam bulan sebelum berangkat.

Lihat Juga :  Mengenal Sosok Nadiya Amalia ; Finalis Puteri Cilik Indonesia 2020 yang Siap Angkat Nama Palembang di Mata Indonesia

Mul sampai harus mengasah kecakapan merayapi tebing di Ciampea dan Kelapa Nunggal di Jawa Barat. Pasalnya, ada masa seorang pendaki Carstensz mesti melakukan pemanjatan sendiri dengan perantaraan alat. Dia dan tim juga menginap beberapa hari di Pangrango untuk mempercepat proses aklimatisasi.

Carstensz langsung bikin Mul jatuh hati. Cinta pada pandangan pertama. Menurutnya, keelokan gunung itu jauh melampaui Rinjani, Semeru, atau Kerinci. Dia terkesima oleh perpaduan warna dan properti alam pada lanskap Carstensz.

“Waktu itu naik direct enggak nyampe. Ketika kembali ke normal, cuaca buruk. Tinggal 50 meter lagi (sampai puncak), terus turun. Setelah itu bersumpah saya akan terus naik gunung ini,” katanya.

Mul menunaikan ikrarnya pada 1991. Setelah itu, dia memutuskan menjadi pemandu di Trekmate Outdoor Adventures, perintis layanan jelajah gunung tinggi di Indonesia. Keberadaannya di sana memungkinkannya untuk sering naik Carstensz, aktivitas yang terus dijalani hingga 2011.

Dia mulai bertemu pendaki-pendaki mancanegara. Pada 1992, dia dan Agus Taman–salah satu pendiri Trekmate–memandu Junko Tabei, pendaki Jepang. Tabei tiba di puncak Everest pada 1975 dan menjadi perempuan pertama yang mencapainya. Pada 1992, perempuan itu menggenapi Seven Summits di Carstensz. Dia sekaligus menjadi perempuan pertama yang bisa menaklukkan semua puncak Seven Summits.

Di Carstensz pula Mul mengenal Hall, pendaki asal Selandia Baru, pengelola firma layanan pendakian, Adventure Consultants. Pada 1994, Hall ke Carstensz membawa banyak klien, kata Mul. Mereka tak menginjak puncak karena mesti memasang tali.

Mul terlibat perbincangan dengan tim Hall untuk mencari solusi atas perkara tersebut. Keputusannya, tali-tetap mesti dipasang. “Saya hanya membantu. Yang masang tyrolean traverse pertama juga dia. Sekarang tyrolean itu sudah jadi outbound traverse. Pakai Burma Bridge. Merem juga bisa (lewat),” ujarnya.

Tali dan ‘jembatan’ itu sekarang penting bagi para pendaki lain yang melancarkan ekspedisi. Sebab, keberadaannya ikut membantu upaya mereka mencapai puncak.

Pada pertengahan Februari 1992, Mapala UI mengirimkan tim ekspedisi ke Gunung Aconcagua di Argentina. Para anggotanya adalah Norman Edwin, Didiek Samsu, Rudy Nurcahyo, Mohammad Fayez, dan Dian Hapsari. “Saya sebenarnya ikut tim, tapi enggak lulus seleksi,” ujar Mul.

Namun tim itu berantakan usai terganjal sebuah insiden. Fayez celaka, karenanya semua mesti turun. Jari-jari Norman dan Rudy harus diamputasi pula karena tersengat radang beku. Setelah itu, Fayez dan Dian pulang duluan ke Indonesia, sementara Rudy masih dirawat di sebuah rumah sakit di Santiago, Cili.

Pada Maret, Norman dan Didiek melakukan pendakian ulang. Petaka kembali terjadi. Kali ini fatal. Keduanya meninggal. Jenazah Didiek ditemukan pada akhir Maret, dan jasad Norman pada awal April.

“Saya sama Didiek akrab sekali. Waktu dia berangkat, malamnya saya menginap. Dia sempat bilang, ‘Mul, harusnya lo yang nyampe’. Kayaknya itu pertanda deh,” kata Mul mengenangkan.

Meski sedih, Ripto Mulyono tak ingin perasaannya terbawa terlalu lama. Maka, pada September 1992 dia mengompori Tantyo Bangun, rekan di Mapala UI yang bekerja sebagai wartawan di majalah Matra, untuk menyelesaikan tugas yang belum diselesaikan pendahulunya. Mul bertekad bahwa Sebelum memasang plakat peringatan tewasnya Norman dan Didiek dekat Plaza de Mulas, mereka mesti mendaki Aconcagua terlebih dahulu.

Keduanya lantas sepakat. Walau di saat bersamaan, mereka mendengar Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) dan Tim Putri Indonesia tengah mengirim wakil ke Aconcagua.

“Waktu itu enggak ada gadget. Saya tim teknis, nyari data. Melakukan korespondensi, nanya ke kedutaan. Di (Aconcagua) juga enggak ada provider. (Kami) bawa barang sendiri, mendaki sendiri,” ujarnya.

Uang didapat dari Badan Pengurus Mapala UI serta honor dibayar di muka atas proposal tulisan-tulisan yang belum dimuat Matra dan Media Indonesia. Mul dikasih sangu kartu kredit tanpa plafon oleh kantornya. “Gesek, gesek. Pulangnya baru pusing,” katanya. “Saya sudah jadi guide. Sudah terlatih. Fisik sudah beres. Waktu itu lagi di titik puncak karena beberapa kali ke Carstensz”.

Ripto dan Tantyo bertolak dari Jakarta pada akhir Desember 1992. Saat di Argentina, mereka baru tahu tim putri tertahan urusan kargo di Cili. Semangat kompetisi untuk menjadi orang Indonesia pertama di Aconcagua pun baru terbit.

“Yang ada di bayanganku waktu itu adalah gimana cara membalaskan dendam biar Didiek dan Norman tenang. Harus sampai duluan,” ujar Mul.

Menurut Mul, salah satu kesulitan di gunung itu adalah posisi serta ketinggiannya. Tak ada gunung lain yang lebih rendah darinya untuk menghalangi angin agar tak langsung menabrak pendaki. Ia pun terletak dekat jet stream, yakni aliran deras angin yang mengalir bagai arus jet. Norman dan Edwin kemungkinan tumbang tersambar angin yang tak mengenal belas kasih dimaksud.

Namun, Mul yakin dengan kondisi fisiknya saat itu. Maka itu, ketika sudah mulai menapaki Aconcagua, kepercayaan dirinya begitu besar. Langkahnya mantap. Dan meski tertahan cukup lama di Canaleta–bagian terjal Aconcagua berhias batuan runtuh–Mul dan Tantyo terus mengayunkan kaki.

Kian mendekati puncak, Tantyo melambat. Mul yang sudah nyaris setengah jam lebih dulu darinya tetap menunggu, seperti tak ingin tiba di puncak sendirian. Tantyo, bagaimanapun, tak kuasa. Ia memberi tanda agar Mul melanjutkan.

Mul, yang sedari tadi mendengarkan La Bamba–lagu yang dipopulerkan Ritchie Valens–dan Symphony No.9 gubahan Ludwig van Beethoven patuh. Dia melaju, melewati pendaki-pendaki dar negara lain.

Akhirnya, sekitar pukul 14 waktu setempat, dia melihat salib besi pada tumpukan batu di tempat tertinggi.

“Sampai di atas situ, saya teriak ‘Allahu akbar’, dan pegang salib. Di puncak dua jam lebih. Saya sejam sendirian nunggu Tantyo,” katanya.

Mul menangis. Keheningan mengingatkannya pada dua rekannya yang sudah meninggal, terutama Didiek. Di situ dia berpikir bahwa mesin takdir bekerja. Dia bisa saja ikut tim pertama itu dan tiada. Sebab, dia merasa tipenya saat itu sama dengan kawan-kawannya: lebih baik pulang nama daripada gagal dalam tugas. Dalam kesendirian itu, seraya menanti Tantyo, dia membatin untuk menghidupkan kesan akan Didiek.

“Gue udah nyampe nih. Harusnya lo”. (*)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*