Polemik Su-35 : Sang Penempur Yang Tak Kunjung Datang

Ilustrasi Pesawat Tempur Sukhoi Su-35. (FOTO: Wikipedia)

Oleh: Prasta Kusuma S.IP

PADA awal Maret 2020, beberapa media luar negeri seperti Bloomberg juga beberapa forum militer ramai dengan isu pembatalan kontrak pesawat tempur Su-35 Indonesia. Pembatalan ini santer diberitakan karena tekanan Amerika Serikat yang tengah memberlakukan sanksi kepada Rusia, sehingga terdapat ancaman pemberlakuan sanksi kepada negara yang membeli produk militer dari Negeri Beruang Merah tersebut.

Pemberitaan ini tidak mendapat respon dari Kementerian Pertahanan RI. Pihak Rusia pun memberikan pernyataan jika belum ada pengajuan pembatalan kontrak pengadaan 11 unit pesawat tempur Su-35 yang ditandatangani pada 2018 silam.

Sukhoi Su-35 Super Flanker merupakan pengembangan paling mutakhir dari pendahulunya yaitu Su-27 Flanker. Mempunyai teknologi canggih yang dikatakan bisa melacak pesawat siluman dengan system IRST-nya, pesawat ini menjadi salah satu lawan berbahaya bagi pesawat tempur terbaru keluaran Amerika Serikat yaitu F-35 Lightning Joint Strike Fighter.

Su-35s sendiri sudah resmi masuk layanan tempur angkatan udara Rusia sejak akhir 2013 silam. Bahkan di 2016, pesawat tempur ini disertakan dalam operasi tempur di wilayah Suriah setelah terjadinya ketegangan Antara Rusia dan Turki, di mana F-16 Turki dikabarkan menembak jatuh Su-24 AU Rusia yang diklaim meneronbos perbatasan Suriah dan Turki.

Sejak insiden itu, dalam beberapa kali kejadian Su-35 ikut dalam misi pencegatan terhadap F-16 Turki dan juga pesawat tempur Israel yang ketahuan menerobos wilayah Suriah dan memaksa mereka meninggalkan wilayah udara Suriah. Jadi bisa dibilang, Su-35 sudah menjadi pesawat tempur yang battle proven di medan tempur.

Indonesia memang sedang membutuhkan pesawat tempur baru untuk melengkapi operasional skadron-14 dimana sejak 2016 resmi memensiunkan jajaran pesawat tempur F-5E/F Tiger-nya setelah 35 tahun mengabdi, (walau pada bulan Maret 2020 ini skadron-14 sudah mendapat tiga pesawat Su-27/30 limpahan dari skadron-11).

Su-35 sendiri bisa dibilang menjadi pilihan paling oke bagi TNI AU saat ini, di saat kedua negara tetangga seperti Singapura dan Australia sudah memutuskan untuk membeli pesawat tempur F-35 Lightning untuk program modernisasi alutsista pesawat tempur mereka. Indonesia sendiri membutukan pesawat tempur yang bisa menjadi penyeimbang sehingga detterent effect yang dimiliki oleh TNI AU tetap garang di tengah semakin majunya teknologi pertempuran udara saat ini. 

Namun, pengadaan jet tempur canggih made in Rusia ini terhalang oleh ancaman sanksi yang dikeluarkan oleh pemerintah Amerika Serikat melalui kebijakan Countering America’s Adversaries Through Sanctions Act, CAATSA. 

Aturan tersebut dirancang untuk memperluas hukuman berupa sanksi dan embargo yang diberikan pemerintah AS sebelumnya kepada sejumlah negara yang membeli senjata dari Rusia atau Iran, sera menjalin hubungan dagang dengan Korea Utara. Ketiga negara itu saat ini dianggap bermusuhan oleh AS.

Memang, undang-undang tersebut lahir dari pandangan politik AS untuk menangkal pengaruh Rusia. Di sisi lain, motif ekonomi persaingan penjualan senjata antara AS dan Rusia juga sangat kental. Penerapan aturan itu secara langsung mempengaruhi hubungan luar negeri negara lain dengan AS dan Rusia. Sebab bentuk sanksi tersebut juga beragam, mulai dari larangan berkunjung ke AS hingga penolakan transaksi keuangan.

Hal ini mengakibatkan dilema dalam urusan pengadaan alutsista Indonesia, di mana yang salah satu produsennya adalah Rusia. Paman Sam sendiri sudah memberi peringatan terhadap Indonesia untuk membatalkan pesanan pesawat Su-35 ini. Sebagai gantinya, AS menawarkan Indonesia untuk membeli pesawat F-16 generasi terbaru, yakni F-16 block 70 Viper.

Indonesia sendiri sebenarnya memang salah satu negara pengguna seri F-16 dalam jajaran alutsistanya. Namun yang menjadi masalah adalah saat ini Indonesia benar-benar membutuhkan sebuah pesawat jet tempur canggih yang bisa menjadi kekuatan penyeimbang di kawasan.

Lihat Juga :  Museum Timah Bangka, Napak Tilas Sejarah Warisan Sang Kolonial

Sebagai Informasi, Australia dan Singapura sudah menjalin kerjasama dengan pemerintah AS dalam pengadaan pesawat tempur generasi kelima meraea, F-35 Lightning  II. Bahkan, pemerintah Australia sudah meresmikan F-35A mereka ke dalam layanan frontline fighter mereka sejak 2018 silam.

Walau Indonesia memiliki F-16V sekalipun, secara teknologi pesawat ini masih inferior dibandingkan F-35 JSF Lightning yang diklasifikasikan sebagai fighter generasi kelima yang memiliki fitur siluman.

Su-35 sendiri memang bukan pesawat bertipikal stealth atau memiliki fitur siluman dan masih digenerasikan sebagai penempur generasi 4,5. Namun, dengan tekonologi IRST-nya, Su-35 ini memampukan pilot tempur untuk mendeteksi pesawat siluman yang berpotensi menjadi ancaman.

Sehingga bisa dibilang, Su-35 ini menjadi salah satu penangkal dari ancaman penerobosan ruang udara Indonesia dari pesawat-pesawat siluman yang berpotensi menjadi ancaman. Su-35 juga memiliki berbagai fitur canggih lainnya seperti komponen perang elektronik, control fly-by-wire generasi terbaru , dan juga Radar Irbis-E.

Walau masih menggunakan system pasif (PESA), radar Irbis-E ini memiliki jangkauan hingga 400 kilometer untuk target non stealth dengan rentang frekuensi yang lebih lebar sehingga sulit diacak lawan. Radar ini juga berguna untuk mendukung kemampuan tempur Beyond Visual Range (BvR) pesawat sehingga Su-35 bisa dilengkapi rudal jarak menengah buatan Rusia R-77 Vympel yang merupakan counterpart dari AIM-120 AMRAAM buatan Amerika.

Dengan kemampuan manuver canggih yang merupakan warisan dari pendahulunya, SU-27. Ditambah lagi dengan kemampuan melakukan pertempuran jarak jauh, Su-35 Super Flanker ini benar-benar menjadi salah satu pesawat yang mematikan dalam pertempuran udara.

Hanya saja, untuk Su-35 Indonesia, tidak ada rencana alih teknologi yang mutakhir guna pengembangan pesawat dalam negeri. Ditambah lagi, biaya operasional Su-35 ini tergolong tinggi dibandingkan pesawat tempur F-16. Meskipun begitu, hal ini sebanding dengan kemampuan tempur pesawat yang memang dirancang khusus untuk misi penguasaan superioritas udara ini.

Nah, kembali lagi ke agenda pembelian pesawat ini, pembelian pesawat Su-35 ini bisa menjadi bukti bahwa untuk pembelian alutsista, Indonesia memiliki kebebasan dan kemerdekaan untuk memilih dari mana pun produsennya tanpa bisa diintervensi oleh negara manapun.

Pembelian pesawat ini juga dapat membatasi ketergantungan pembelian alutsista dari negara barat, khususnya untuk pesawat tempur. Dibutuhkan keseimbangan negara produsen yang dapat memasok kebutuhan alutsista strategis, khususnya pesawat tempur, untuk menjaga fleksibilitas operasionalnya dan juga mencegah kelumpuhan oleh embargo seperti yang pernah menghantam angkatan udara kita di medio tahun 70 dan 90-an.

Tenggat waktu pengadaan pesawat tempur ini juga terus mendekat, seharusnya pesawat pengganti F-5 Tiger yang sudah pensiun harus sudah siap diakhir periode MEF-II atau 2019 silam. Sehingga kekosongan kekuatan udara Indonesia yang seharusnya diisi oleh pesawat tempur tersebut tidak terlalu terjadi dalam waktu yang lama. (*)

 

Prasta Kusuma

Penulis merupakan alumni Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjajaran, pernah bekerja sebagai produser di beberapa radio di Bandung. Saat ini dirinya tengah merintis usaha dan jasa event organizer. Hobi menulis dan fotografi, serta kecintaannya terhadap kereta api tidak membuat dirinya berhenti berkeliling Indonesia.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*