Pengembangbiakan Burung Unta : Dari Oman, Kepakkan Sayap Hingga ke Nusantara

Pengembangbiakan burung unta di Bird Palembang ini berhasil mewujudkan niatnya untuk membangun sebuah penangkaran Burung Unta di Palembang, Sumatera Selatan. (FOTO: MALA ANINDHITA/MATA ANGIN)

MATA ANGIN, PALEMBANG – Memiliki iklim yang nyaris sama dengan Indonesia menjadi pertimbangan utama Susan Tri (45) memilih pengembangan hewan yang tidak biasa di Indonesia, yakni Burung Unta.

Kendati bukan habitat aslinya, Owner Bird Palembang ini berhasil mewujudkan niatnya untuk membangun sebuah penangkaran Burung Unta di Palembang, Sumatera Selatan. Berbekal izin konseverasi, Bird Palembang, sebuah tempat untuk perkembangbiakan induk Burung Unta, sudah berjalan bahkan hingga generasi anakan ke tiga.

“Kita tahu jika Burung Unta ini merupakan burung terbesar yang masih hidup dan berasal dari habitat asli di sebagian daerah Afrika dan di Oman, Arab,” tegasnya.

Ia menyebut pengembangbiakan burung setinggi 2,5 meter ini tidak sesulit yang dibayangkan. Kendati indukannya dibawa langsung dari Oman, namun Burung Unta mampu beradaptasi cepat dengan kondisi cuaca di Indonesia, khususnya di Palembang. “Hanya saja, dengan catatan, prosesnya bertelurnya di dalam inkubator,” ujar dia.

Pengembangbiakan burung unta di Palembang.

Ia menjelaskan, reproduksi Burung Unta dilakukan secara generatif melalui proses perkawinan. Untuk menarik perhatian Burung Unta betina agar mau kawin, Burung Unta Jantan akan melakukan tarian unik berupa menaik-turunkan leher dan menghentakkan kakinya ke tanah sembari melebarkan sayap.

“Pada saat perkawinan hal utama yang diperlukan adalah keberhasilan. Pertama supaya hewan tidak sakit dan terkena bakteri. Kemudian cek apakah ada telur yang keluar dari burung unta betina. Terkadang ada yang tidak ada embrio (telur burung unta) tidak menghasilkan anakan jadi busuk, karena tidak ketahuan (bertelur),” jelas dia.

Siklus kehidupan burung unta, ungkap Susan, tetap bertelur, walau tidak menghasilkan embrio (buah anakan). Jadi, ketika telur burung tersebut berkembang, maka harus benar-benar dirawat dengan menyiapkan inkubator.

Lihat Juga :  Antisipasi Sebaran Covid-19, AJI Kota Palembang : Jangan Ditutup-Tutupi, Semua Informasi Corona Wajib Diketahui Publik

“Ada ruangan khusus inkubator telur supaya hangat, seperti mengeram telur tetapi tidak melalui induknya langsung. Ruangan ini hanya pengelola yang boleh masuk,” ungkapnya.

Sebagai informasi, sebutir telur burung unta bisa mencapai berat 1,5-2 kg. Penetasan telur unta melalui inkubator butuh waktu 42 hari. Kalau untuk penetasan secara alami, itu dierami oleh induk jantan (malam hari) dan betina (siang hari), telur menetas dalam waktu 52 hari pengeraman.

Sementara, Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner RSH Sumsel, drh Syamsul Maarif menambahkan, berdasarkan zoologi meski tubuh burung unta besar, burung unta memiliki kapasitas otak yang kecil.

“Untuk jenis, burung unta merupakaan omnivora , tapi tergantung bagaimana proses penangkarannya. Bisa saja saat penangkaran menjadi jenis herbivora. Tapi umumnya, burung unta makan dedaunan, akar-akaran, biji-bijian, dan serangga kecil lain yang ada di sekitarnya,” ujarnya.

Secara kehidupan, burung unta termasuK hewan berdarah panas dan melindungi diri dengan sayapnya. Burung unta memiliki sayap dan tubuh yang diselubungi bulu untuk menjaga suhu tubuhnya. “Tapi bulunya tidak berfungsi sebagai keranjang udara sehingga membuatnya tidak bisa terbang,” pungkasnya. (*)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*