Pasar Baba Boentjit, Drama Legenda Antu Banyu hingga Spot Instagramable Tersaji

Suasana di Pasar Baba Boentjit yang selalu ramai, Rabu (4/12/2019)/FOTO: MALA ANINDHITA

MATA-ANGIN.COM – Tahun 2018 lalu, kala itu masih dijabat Menteri Pariwisata Arief Yahya akan membuat 100 destinasi digital demi tercapainya target kunjungan 17 juta wisatawan mancanegara ke Indonesia.

Menurut sang mantan menteri, hasil yang luar bisa juga butuh cara yang tidak biasa. Destinasi digital ini dinilai sebagai salah satu cara tak biasa dalam menciptakan objek wisata, terutama bagi generasi milenial yang menyukai keunikan untuk difoto dan diunggah ke media sosial.

Pada akhir tahun ini, sudah ada tujuh destinasi digital di berbagai daerah di Indonesia, yaitu Pasar Tahura (Lampung), Pasar Kakilangit (Yogyakarta), Pasar Siti Nurbaya (Padang), Pasar Karetan (Semarang), Pasar Mangrove (Batam), dan Pasar Pancingan (Lombok), dan Pasar Baba Boentjit (Palembang).

Setiap destinasi memiliki keunikan masing-masing dan sesuai dengan karakter daerahnya.

Di Palembang, Pasar Baba Boentjit dibuat di rumah tua berusia 300 tahun tetapi masih berdiri kokoh di tepian Sungai Musi dengan ornamen Tiongkok, serta ukiran khas ibu kota SumatEra Selatan tersebut.

Lokasi objek wisata ini terletak di Rumah Oeng Boen Tjit, seorang pengusaha peranakan terkenal di Palembang zaman dahulu. Rumah ini beralamat di Lorong Saudagar Yucing, Kelurahan 3-4 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu I, Palembang.

Di Pasar Baba Boentjit, banyak titik-titik instagramable dan ditambah dengan pemandangan Sungai Musi. Di rumahnya pun banyak yang bisa dieksplorasi oleh pengunjung, mulai dari melihat ornamen-ornamen dan menyelami sejarah rumah tersebut.

Bagi generasi milenial dan pencinta fotografi, tentu akan mendapatkan banyak objek foto di lokasi ini. Selain rumah yang unik, Anda juga bisa bergeser ke Sungai Musi, atau memotret kehidupan warga di sekitar pasar.

Selain menjadikan Rumah Oeng Boen Tjit sebagai tujuan wisata baru, masyarakat sekitar juga dilibatkan untuk mengisi stan-stan makanan. Di Pasar Baba Boentjit, pengunjung bisa menikmati aneka makanan khas Palembang seperti pempek, pempek nastar, kue dadar jiwo, kue bluder, pindang daging, dan es kacang merah.

Lihat Juga :  Antisipasi Sebaran Corona pada Penumpang, Lion Air Jalani Sterilisasi Pesawat

Akan ada juga loka karya kerajinan tangan sangkek dan tampah dari lidi nipah yang merupakan sumber penghasilan masyarakat. Juga ada edukasi masakan tradisional patin baung dan pindang tulang.

Wisatawan juga dapat mengikuti berbagai atraksi dan lomba, seperti rangkaian tari kreasi khas peranakan Palembang, demo masak, serta penampilan drama “Legenda Antu Banyu”.

Untuk sampai di Rumah Oeng Boen Tjit, bisa menggunakan perahu ketek (perahu kecil) dari dermaga Benteng Kuto Besak, Pasar Sekanak atau daerah Suro (Ulu Sungai Musi).

Selama perjalanan, Anda akan disuguhi pemandangan Jembatan Ampera, Kampung Warna Musi Bercorak dan Jembatan Musi IV.

Bila datang dari luar kota, pengunjung juga bisa sekalian menyusuri Sungai Musi. Sungai sepanjang 750 km ini membelah Kota Palembang menjadi dua bagian yaitu Seberang Ilir dan Seberang Ulu. Wisatawan dapat berkunjung ke jembatan yang menghubungkan keduanya, yaitu Jembatan Ampera.

Pemandangan Sungai Musi paling menarik saat pagi hari. Anda bisa menikmati pemandangan Matahari terbit serta warna air yang berubah jadi keemasan. Juga pemandangan Pulau Kemaro yang berada di tengah Sungai Musi. (mala anindhita)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*