Musibah Hawk-209, Lampu Kuning Regenerasi Pesawat TNI AU

FOTO: IST

Oleh: Prasta Kusuma, S.IP

SETELAH sempat mengalami fase zero accident, TNI AU kembali kehilangan salah satu alutsista udaranya yaitu sebuah pesawat Hawk-209 dari skadron udara-12 Pekanbaru, Senin, 15 Juni 2020. Beruntung, pilot pesawat bernomor seri TT-0209 tersebut selamat dan tidak ada korban jiwa dalam insiden. Pesawat jatuh ketika akan mendarat di Lanud Roesmin Nurjadin setelah menjalani proses latihan. Penyebab pasti kecelakaan ini belum bisa dipastikan mengingat investigasi masih berlangsung.

Hawk 109/209 merupakan pesawat tempur ringan yang cocok untuk misi serang darat, patroli udara, hingga penyergapan. Hawk series sendiri merupakan pesawat tempur yang sudah mulai menua dari segi usia dan sudah mengabdi untuk menjaga langit ibu pertiwi selama lebih dari 20 tahun sejak digunakan TNI AU dari 1995. Memang pada tahun 2016 silam pesawat ini sudah menjalani pemutakhiran sistem radar, namun pada 2025 mendatang pesawat ini akan mulai kadaluarsa dan harus segera dicari penggantinya.

Pada 2018 silam, sudah ada wacana untuk mulai mencari pengganti pesawat made in England ini. Pesawat Hawk rencananya akan digantikan oleh pesawat generasi 4,5. Beberapa pesawat yang mungkin menjadi kandidat penggantinya adalah F-16V block 72, Jas-39 Gripen, Dassault Rafale, F/A-50 Golden Eagle, Hingga Mig-35 Fulcrum.

Namun, saat ini pengadaan pesawat tempur oleh Indonesia terbilang kurang cepat terealisasi. Selain fokus pemerintah yang memprioritaskan pembangunan infrastruktur guna membantu peningkatan ekonomi dalam negeri, bencana COVID-19 juga menyebabkan beban anggaran negara meningkat.

FOTO: IST

Terlebih lagi situasi geopolitik global yang memanas dapat mempengaruhi rencana pembelian pesawat tempur, seperti kasus pembelian pesawat Su-35 Super Flanker yang rencananya akan menggantikan armada F-5 Tiger II TNI AU yang sudah tidak operasional sejak tahun 2016 silam. Untuk pesawat BAE Hawk 100/200 sendiri, hingga saat ini hanya 3 negara di dunia yang masih mengoperasionalkan pesawat tersebut dalam jajaran arsenal tempurnya.

Lihat Juga :  Semangat Peringatan 75 Tahun HUT RI, DPD PDI Perjuangan Sumsel Gagas Parade Lomba "New Spirit Perjuangan"

Melihat potensi konflik di kawasan tenggara Asia, terutama kawasan Laut China Selatan yang masih menghangat, pemerintah harus lebih siap dan serius dalam mempersiapkan kebijakan pertahanan kedepannya. Menurunnya kesiapan alutsista, khususnya pesawat tempur sendiri dapat menyebabkan posisi tawar (bargaining position) dari pemerintah Indonesia dalam diplomasi internasional melemah dan kurang diperhitungkan oleh masyarakat internasional.

Tidak terpenuhinya pembangunan komponen utama yang tertuang dalam MEF juga dapat mengakibatkan menurunnya daya tangkal (deterrence) pertahanan negara di kawasan. Karena itu, contoh kasus pembelian pesawat Su-35 yang terlalu berlarut-larut sebisa mungkin jangan sampai terulang.

Terutama nanti dalam mencari pengganti pesawat BAE Hawk 109/209 yang sudah mulai menua saat ini sehingga tidak terjadi kekosongan kekuatan untuk menjaga kedaulatan udara NKRI yang luasnya lebih dari lima juta kilometer persegi ini. (*)

Prasta Kusuma

Penulis merupakan alumni Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjajaran, pernah bekerja sebagai produser di beberapa radio di Bandung. Saat ini dirinya tengah merintis usaha dan jasa event organizer. Hobi menulis dan fotografi, serta kecintaannya terhadap kereta api tidak membuat dirinya berhenti berkeliling Indonesia.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*