Memulai Usaha dari Hobi, 20 Tahun Mahesa Melukis di Jalanan Palembang

20 tahun lebih Mahesa melukis di pinggir Jalan Jenderal Sudirman, tepatnya di depan Pasar CInde, untuk menyalurkan bakatnya sekaligus mencari penghidupan. (Kemas Prima)

MATA ANGIN, PALEMBANG – Kepiawaian Mahesa (44) melukis wajah seseorang ke kanvas sudah ditekuninya sejak 2000-an. Profesi sebagai pelukis jalanan yang dijalani sejak dirinya bujangan tersebut berawal dari hobi.

Bagi masyarakat yang sering melintas di bilangan Jalan Jenderal Sudirman, emperan toko alat musik yang tepat berada di seberang Bank Mandiri Pasar Cinde menjadi tempatnya berkarya sejak lama. Tak beratap, lapak itu diisi Mahesa dengan bangku kayu untuknya duduk di trotoar.

Lukisan karyanya dipajang pada dinding seng-seng yang menutupi lahan kosong di kawasan tersebut. Di dinding itu, berjejer beberapa wajah terkenal yang dilukisnya. Mulai dari para tokoh nasional, presiden Indonesia, ulama, hingga selebriti.

Kepada Mata-Angin.co.id ,laki-laki yang mengenakan peci hitam tersebut bercerita, bakat melukisnya didapat secara otodidak. Bermula dari hobi yang ditekuni hingga menjadi prosesi yang disenangi.

Mahesa Art menjadi nama yang selalu ditulisnya di pojok kanan bawah lukisan karyanya. Lelaki yang yang bertahan menjadi pelukis karena hobi ini, tetap memantau perkembang seni lukis modern. Dirinya juga sering berkumpul bersama rekan sesama seniman lukis lainnya yang berada di Palembang.

“Awalnya karena senang melukis lalu ditekuni, akhirnya bisa seperti sekarang ini,” ujarnya saat diwawancarai di bangku Taman Pelataran Jalan Jenderal Sudirman, Minggu (2/2/2020) lalu.

Tanpa modal apapun, dirinya memberanikan diri membuka jasa untuk melukis wajah dan karikatur. Berangsur-angsur dirinya membeli peralatan melukis seperti cat, kuas, pensil, kanvas, dan lainnya.

“Karena hobi itu harus dapat peluang, kalau tidak ya percuma. Dari hobi ditekuni lalu menghasikan uang,” ujar Mahesa.

Bagi dirinya, seni melukis foto harus diutamakan realis, disesuakan dengan aslinya. Lukisan hasil karyanya yang dijual ada banyak jenis, seperti lukisan hitam putih, karikatur dan siluet. Tak hanya foto, dia juga menerima pesanan tulisan indah berupa kaligrafi dan tulisan pada piagam atau sertifikat. Harga yang dibanderol Mahesa beragam, mulai dari Rp300 ribu untuk lukisan hitam putih, dan dua kali lipatnya untuk lukisan warna.

Lihat Juga :  Tujuh Unit Pesawat Jupiter Aerobatic Team "Lukis" Langit Palembang

“Lukisan hitam-putih bisa dikerjakan dalam waktu dua-tiga jam. Kalau yang berwarna bisa dikerjakan satu minggu, makanya harganya beda,” ungkap dia.

Mahesa mengenang masa awal dirinya menawarkan jasa melukis tersebut hanya Rp5 ribu per lukisan. Seiring berjalannya waktu, harganya terus meningkat. Saat ini, untuk lukisan 16R harga yang dibanderol Mahesa sebesar Rp500 ribu.

“Lagi ramai-ramainya itu dulu ya, biasanya seminggu itu penuh. Yang pesan lagi harus nunggu lagi agak lama. Sekarang mulai sepi. Sejak lima tahun belakangan ini pemasukan turun terus,” keluhnya.

Tiap hari, Mahesa membuka lapaknya pukul 10.00-18.00. Ada-tidaknya pesanan, dirinya tetap melukis dengan duduk di atas trotoar, menunggu pelanggan datang. Ketika tidak ada yang dikerjakan, Mahesa bercengkrama dengan masyarakat yang beraktifitas di salah satu jalan tersibuk di Kota Palembang tersebut.

“Alhamdulillah saya tetap bersyukur. Namanya juga usaha, semua ada masanya. Tapi saya tetap bertahan demi menafkahi,” pungkas warga Seberang Ulu, Palembang ini. (*)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*