Masuk Kategori Kota Rawa, Sungai dan Dataran Rendah, Pembuatan Masterplan Pengendalian Banjir Dinilai Mendesak

Dosen Prodi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Palembang, Akhmad Hamdi Asysyauki, ST (paling kiri) saat memberikan pemaparan tentang kondisi dan antisipasi banjir di Palembang. (FOTO: MALA ANINDHITA/MATA ANGIN)

MATA ANGIN, PALEMBANG – Permasalahan dan penanganan banjir di Kota Palembang disoroti serius oleh sejumlah akademisi dan tokoh masyarakat.

Dalam seminar “9 Solusi Anti Banjir” yang digelar di Hotel Aston Palembang, Sabtu (22/02/2020), sejumlah prediksi dan antisipasi dilakukan agar Palembang tidak tenggelam karena banjir

Dosen Prodi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Palembang, Akhmad Hamdi Asysyauki, ST menegaskan jika pemkot perlu melakukan penyusunan terhadap peta daerah rawan banjir secara reguler serta menyiapkan strateginya secara adaptasi komprehensif yang sesuai dengan kondisi wilayah masing-masing (per-kelurahan danBukan per-kecamatan jika memungkinkan).

Pengembangan sistem peringatan dini banjir. Pembuatan drainase yang sesuai dengan standar, baik besaran maupun konstruksinya. Harus dilakukan pendataan jalur drainase (primer, sekunder, tersier) yang ada dan disesuaikan dengan kondisi terkini.

“Semua sistem jaringan prasarana drainase tersebut harus terintegrasi dengan kolam retensi dan das (daerah aliran sungai),” ujarnya kepada Mata – Angin, Sabtu (22/02/2020).

Dalam seminar “9 Solusi Anti Banjir” yang digelar di Hotel Aston Palembang, Sabtu (22/02/2020), sejumlah prediksi dan antisipasi dilakukan agar Palembang tidak tenggelam karena banjir (FOTO: IST)

Dirinya juga menilai jika harus dilakukan peningkatan pengelolaan sampah menambah dan melakukan peremajaan peralatan dan armada pengangkutan sampah. Pengelolaan sampah terpadu setiap kecamatan dan mendorong warga kota membuat bank sampah.

Menurutnya, saat ini dua lokasi TPA Sukawinatan dengan luas 25 hektare dan TPA Karya Jaya dengan luas 40 hektare. Kapasitas pengelolaan sampah untuk di TPA Sukawinatan hanya efektif 3 hektare dari 25 hektare yang ada (kendala over kapasitas), dan TPA Karya Jaya hanya efektif 5 hektare dari 40 hektare yang tersedia (terkendala akses ke lokasi).

Lihat Juga :  ACT Sumsel Kirim 40 Ton Bantuan Pangan untuk Korban Banjir dan Longsor Bengkulu 

Dirinya juga menyoroti kondisi lahan basah atau rawa yang ada di Palembang yang saat ini kian berkurang. Saat ini, hanya tersisa 2.372 hektar luasan rawanya. Dengan kondisi tersebut palembang harusnya memiliki 77 kolam retensi. “Sayangnya Palembang hingga saat ini hanya memiliki 26 kolam retensi,” katanya.

Selain itu, pemerintah juga perlu melakukan perbaikan sungai dan anak-anak sungai, normalisasi ataupun naturalisasi. Melakukan pengerukan pada aliran air (sungai, danau, selokan) yang mengalami pendangkalan agar kapasitas penampungan volume air lebih besar.

“Banyak permasalahan yang dihadapi Kota Palembang, terutama saat musim hujan. Jika ini dibiarkan berlarut, bukan tidak mungkin Palembang bisa saja tenggelam di beberapa tahun ke depan. Palembang ini memiliki karakteristik sebagai Kota Rawa, Sungai dan Dataran Rendah,” katanya.

Dirinya menyarankan agar pemerintah segera menyusun masterplan pengendalian banjir kota Palembang. Selain itu, pembuatan dan pengembangan sistem peringatan dini banjir. “Pengelolaan dan pengendalian banjir kota palembang harus melalui pendekatan yang holistic (menyeluruh) terpadu dan Partisipasi dari banyak pihak,” pungkasnya. (*)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*