Konflik Lahan Warga-Tambang-Pemerintah, 10 Ekor Gajah Sumatera di Lahat Terusir Dari Habitatnya

EVAKUASI - 10 Ekor gajah di Sekolah Gajah Perangai, Kecamatan Merapi Selatan, Kabupaten Lahat dievakuasi sebagai dampak konflik lahan yang terjadi antara pemerintah-masyarakat-perusahaan tambang, Rabu (20/3/2019).

MATA ANGIN — Sebanyak 10 ekor gajah latih Sumatera terusir dari habitatnya di Sekolah Gajah Perangai, Kecamatan Merapi Selatan, Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan akibat konflik vertikal antara masyarakat, pemerintah, serta perusahaan tambang batu bara yang berada di kawasan tersebut.

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Selatan merelokasi 10 ekor gajah tersebut ke Suaka Margasatwa Muara Sugihan, Banyuasin agar kegiatan gajah tidak terusik. Namun pergantian habitat secara mendadak memicu stres pada para gajah yang berpotensi pada kematian.

Kepala BKSDA Sumsel Genman S Hasibuan mengatakan, adanya penyerobotan tanah di hutan suaka alam di Desa Perangai oleh warga sekitar menjadi penyebab relokasi gajah tersebut. Genman menyebut keamanan para gajah beserta pawangnya terancam karena konflik antara BKSDA dengan warga masih memanas.

“Pakan alami gajah di kawasan itu semakin berkurang sehingga gajah berontak dan masuk ke perkebunan masyarakat untuk mencari makan,” ujar Genman, Rabu (20/3/2019).

Sebelumnya pun konflik terjadi akibat warga nekat menanam pohon karet di lahan konservasi. Namun petugas BKSDA yang mengetahui tindakan warga tersebut segera mencabuti tanaman karet. Namun pencabutan tersebut semakin memanaskan konflik. Genman berujar, lahan hutan suaka alam di Lahat seluas 210 hektar. Lahan yang bisa ditempati gajah sekitar 70 hektar, namun 30 hektar diantaranya diserobot warga.

“Kami tidak ingin konflik ini semakin memanas, sehingga mengevakuasi gajah itu. Evakuasi dilakukan menggunakan truk terbuka sejak Minggu (16/3) kemarin. Sudah 8 yang dievakuasi, 2 lagi masih dalam proses pemindahan. Untuk kasus penyerobotan lahan ini dalam penanganan pihak berwajib,” ujar dia.

Sementara itu Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumatera Selatan Muhammad Chaerul Sobri mengatakan, konflik yang menganggu habitat gajah di Lahat tersebut sebenarnya bukan disebabkan oleh penyerobotan lahan. Namun wilayah Sekolag Gajah Perangai sudah dikepung oleh banyaknya tambang batubara dan 2 PLTU.

Dirinya berujar, banjirnya penerbitan izin dan eksploitasi batubara yang dikeluarkan pemerintah sejak 2009 di Lahat, terutama Kecamatan Merapi Selatan berdampak signifikan terhadap kondisi lingkungan hidup dan kehidupan makhluk hidup.

Lihat Juga :  Alat Tangkap Ilegal Marak, Nelayan di Banyuasin Melapor ke Menko Kelautan dan Perikanan

“Sebelum adanya eksploitasi batubara di Lahat, area Sekolah gajah terlindungi dengan tingginya tegakan hutan. Wilayah di situ punya hutan yang padat dan bagus. Namun sekarang kondisinya bertolak belajang karena beralih fungsi jadi tambang batu bara. Sehingga wilayah habitat gajah jadi enggak layak lagi untuk ditinggali,” ujar Chaerul.

Dengan direlokasinya gajah tersebut dari habitat yang sudah lama ditinggali, ujar dia, membuktikan bahwa pola pembangunan dan eksploitasi sumber daya alam di Sumsel selama ini bukannya mensejahterakan masyarakat, namun juga merusak lingkungan hidup dan terancamnya keselamatan masyarakat.

“Dalam temuan kami, masyrakat terganggu dengan adanya aktivitas tambang dan pencemaran sungai. Pola pembangunannya tidak sesuai karena seharusnya wilayah tersebut dilindungi pemerintah, tapi malah dikasih izin tambang batubara,” jelas dia.

Dalam kondisi ideal, Chaerul mengungkapkan, evakuasi gajah tidak diperlukan apabila kajian dan perlindungan terhadap ekosistem di sekitar Sekolah Gajah Perangai Lahat dilakukan dengan benar. Sehingga pertambangan batubara di kawasan tersebut seharusnya tidak pernah mendapatkan izin.

“Kalau posisinya sekarang tidak ada pilihan lagi kecuali dievakuasi,” kata dia.

Dengan begitu, evakuasi gajah tersebut dinilai Walhi mengorbankan gajah sebagai makhluk hidup. Gajah harus mulai beradaptasi lagi di tempat yang baru. Bahkan ada kemungkinan gajah bisa mati akibat stres yang tinggi karena membutuhkan waktu yang lama untuk beradaptasi dengan habitat yang baru. (*)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*