Komunitas Layang – Layang Aduan, Lestarikan Budaya Melalui Hobi

Beberapa anggota Komunitas Layangan Aduan Palembang CGC40 sedang memainkan layangan di kawasan Perumahan Citra Grand City Palembang, Ahad (6/9/20). Selain menjadi hobi, komunitas ini mengajak seluruh kalangan untuk terus melestarikan permainan tradisional. (FOTO: ADAM RAHMAN)

MATA ANGIN, PALEMBANG — Berkembangnya permainan di zaman modern saat ini tak membuat para pemain layang-layang berhenti untuk menyalurkan hobi mereka.

Termasuk yang dilakoni Komunitas Layangan Aduan Citra Grand City 40 (KLACGC) Palembang.

Terbentuk 2015 silam, komunitas ini sudah beranggotakan sekitar 25 orang dari berbagai rentang usia. Mulai dari sepuluh tahun, sampai usia 60 tahun masih aktif bermain layang-layang.

Ketua Komunitas Layangan Aduan, Fery (44) mengaku sudah menggeluti hobi bermain layang-layang sedari kecil. “Sejak duduk di bangku sekolah dasar di tahun 1998 saya sudah hobi bermain layang-layang,” ujar bapak dengan tiga orang anak ini.

Setelah dibentuk komunitas ini, Ferry dan rekannya menyisihkan waktu setiap Minggu pagi untuk bermain layang-layang bersama. Selain sebagai hobi, bagi Ferry, bermain layang-layang juga merupakan bentuk kepedulian terhadap pelestarian permainan tradisional.

“Selain memang di sini hobi kami, permainan seperti ini sudah menjadi kewajiban kita untuk melestarikannya. Perihatin sebenarnya melihat kondisi anak-anak sekarang sudah tidak banyak lagi yang memainkan permainan seperti ini,” katanya.

Menurutnya, adanya komunitas seperti ini membuat masyarakat bisa melihat jika bermain layang-layang tidak memandang usia dalam hal memainkan permainan tradisional ini.

Sama seperti komunitas lainnya, di tempat Ferry memimpin ini ada peraturan yang harus di taati oleh setiap anggota. Salah satunya pada benang layang layang yang digunakan.

“Setiap pemain harus menggunakan benang gelasan katun karena dinilai lebih aman dan tidak membahayakan bagi orang di sekitar. Jika ada yang melanggar, maka akan didenda Rp.100 ribu,” jelasnya.

Lihat Juga :  Sudah Bisa Dipesan, PT KAI Divre III Palembang Sediakan 63.228 Tiket Mudik Lebaran

Keseruan bermain layang – layang tidak hanya dirasakan oleh orang dewasa. Anak lelaki usia 10 tahun bernama M. Ari Isniani (10) sedang asik menarik ulur tali tenur layangan yang ia mainkan.

Hadirnya Ari di tengah-tengah orang dewasa karena sang ayah, Khaidir (40) yang juga merupakan anggota Komunitas Layangan Adu Palembang.

Khaidir mengaku bahwa ia lebih mengizinkan anaknya bermain layang – layang daripada permainan online seperti yang dimainkan kebanyakan anak-anak zaman sekarang.

“Dari umur dua tahun setengah saya ajak Ari bermain layang – layang. Sampai umurnya 10 tahun sekarang masih ikut saya untuk bermain layang – layang,” sampainya.

Di samping itu, menurut Atok (35) yang juga sebagai anggota, kendala utama dalam memainkan layang – layang ini yakni kurangnya lapangan terbuka. Sebab hal itu Atok berharap bisa mendapatkan uluran tangan pemerintah supaya bisa menyediakan lapangan yang lebih luas untuk para pemain layang-layang.

“Saya berharap kepada pemerintah terkait hal ini bisa memberikan kami tempat untuk tetap melestarikan permainan tradisional ini,” pungkasnya. (adam rahman)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*