Harimau di Muara Enim Masuk Perangkap, BKSDA Evakuasi ke Lampung

MATA ANGIN - Petugas dibantu masyarakat mengevakuasi harimau yang masuk ke dalam perangkap, Selasa (20/1/2019).

MATA ANGIN — Seekor harimau sumatera masuk ke dalam kotak perangkap yang dipasang Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Selatan di Desa Pelakat, Kecamatan Semende Darat Ulu, Kabupaten Muara Enim, Sumsel, Selasa (21/1/2019). Saat ini petugas tengah dalam proses mengevakuasi harimau tersebut.

Kepala BKSDA Sumsel Genman Suhefti Hasibuan membenarkan hal tersebut. Dirinya berujar, sebelumnya petugas mengecek kotak perangkap yang dipasang di kawasan kebun kopi pagi hari. Saat hendak mendekat ke boks yang menggunakan seekor kambing untuk pancingannya, petugas BKSDA melihat kandang berbahan besi tersebut sudah tertutup dengan seekor harimau di dalamnya.

“Kemarin itu belum ada, pagi hari sudah ada. Kemungkinan tertangkapnya memang hari ini,” ujar Genman.

Dirinya menduga harimau tersebut merupakan satwa liar yang menyerang delapan warga dan enam diantaranya tews di Pagar Alam, Muara Enim, serta Lahat. Saat ini pihaknya belum bisa memastikan usia dan jenis kelamin harimau tersebut.

Berdasarkan standar operasional prosedur evakuasi, setelah masuk perangkap petugas menutupi harimau tersebut agar tidak kembali agresif. Petugas pun segera mengamankan harimau sebelum bisa dievakuasi ke pusat penyelamatan.

“Kondisi harimaunya baik, tapi posisi saat ini saya rahasiakan dulu, ini demi keselamatan harimaunya juga. Kita minta pengawalan TNI dan polri untuk evakuasi karena kita khawatir ada masyarakat yang enggak suka karena harimau ini sudah menewaskan orang, takutnya ada yang ingin balas dendam,” kata dia.

Pihaknya masih menyiagakan tiga kotak perangkap dan 20 perangkap kamera yang masih terpasang di kawasan jelajah harimau.

“Setelah dari pusat rescue itu akan dilakukan pengecekan kesehatan dan tingkah laku sebelum dilepasliarkan ke tempat yang baru. Sebab habitat yang lama tidak dimungkinkan lagi karena berpengaruh terhadap pakan dan gangguan di dalam hutan lindung. Jadi akan dilepaskan di habitat baru.

Genman berujar, rekomendasi dari dokter hewan harimau tersebut tidak dibius selama proses evakuasi. Harimau akan evakuasi bersama boks trap yang menangkapnya tersebut yang tutupi kain terpal untuk mencegah stres dan menyakiti tubuhnya saat proses pemindahan.

“Kita evakuasi ke Lampung karena di Sumsel belum ada pusat rescue harimau. Nanti di sana, dokter hewan akan mengambil feses dan darah dari harimau ini. Tes itu nantinya akan membuktikan apakah harimau ini yang sudah meresahkan dan menyerang warga atau bukan,” ujar Genman.

Genman menyebut, dugaan kuat harimau tersebut merupakan individu yang menyerang warga dan berkeliaran di sekitar kawasan tersebut berdasarkan ukuran jejak yang ditemukan. Diketahui, tiga warga Semende Darat yang berada di dua daerah yakni Kabupaten Lahat dan Muara Enim menjadi korban penyerangan, dua diantaranya meninggal dunia.

Lihat Juga :  Dinas Kehutanan Sumsel Susun Draft Satgas Satwa Cegah Konflik Harimau Susulan

Pertama, Mustadi (50), petani kopi ditemukan tewas di kebunnya Desa Rekimai Jaya, Kecamatan Semende Darat Tengah, perbatasan Lahat dengan Muara Enim, Kamis (12/12). Kemudian Sulis (30) warga Desa Talang Tinggi, Kecamatan Semendo Darat Laut, Muara Enim ditemukan tewas diterkam harimau saat sedang mandi di sungai, Sabtu (28/12).

Terakhir Martam (62), seorang petani diserang harimau usai mandi di pancuran yang terletak di dekat kebunnya, Dusun Talang Resam, Desa Penindaian, Kecamatan Semende Darat Laut, Kabupaten Muara Enim, Kamis (9/1). Martam selamat dengan luka cakaran di bagian kaki.

Dirinya berujar, sebagian kawasan Semende di Muara Enim masuk ke dalam kantong harimau Jambul Patah Nanti. Di kantong harimau tersebut, diyakini terdapat tiga individu harimau.

“Kasus di Muara Enim ini berbeda dengan kasus yang terjadi di Lahat dan Pagar Alam yang masih berada di kawasan hutan lindung. Kejadian yang di Muara Enim berada di kawasan penyangga antara area penggunaan lain (APL) dengan hutan lindung,” ujar dia.

Saat ini pihaknya masih menunggu proses penganggkutan harimau apakah akan dievakuasi melalui jalur darat atau udara menuju Lampung.

Sementara itu, Gubernur Sumsel Herman Deru mengimbau masyarakat untuk mengambil pelajaran dari konflik harimau dengan manusia. Masyarakat diminta untuk menjaga dan melestarikan kawasan hutan lindung.

“Masyarakat diminta untuk tidak menebang pohon dan membuka lahan di kawasan hutan lindung yang menjadi habitat harimau. Harimau tidak akan keluar dari habitatnya jika rantai makanan dijaga, jangan buru makanannya,” ujar dia. 

Diketahui, terdapat delapan peristiwa konflik harimau dengan manusia sejak 17 November lalu. Sebanyak enam warga tewas, dan dua lainnya luka-luka akibat serangan harimau tersebut. Lokasi penyerangan tersebar di Kota Pagar Alam, Kabupaten Lahat, serta perbatasan Lahat- Muara Enim. Tiga daerah tersebut merupakan satu hamparan kawasan hutan lindung Dempo dan Kikim Seblat yang menjadi habitat satwa liar dilindungi termasuk harimau sumatera. (*)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*