Gunung Dempo, Perpaduan Eksotisme dan Adat Lokal Leluhur

DESTINASI WISATA

Gunung Dempo yang berada di Kota Pagar Alam, Sumatera Selatan, memiliki ketinggian 3.159 mdpl. Gunung ini menjadi salah satu favorit para pendaki karena memiliki beberapa jalur pendakian dengan tingkat kesulitan yang berbeda. Selain itu, Gunung Dempo juga dikenal ramah bagi kalangan pendaki pemula.

Namun, di balik itu semua gunung tetaplah alam yang sarat misteri, begitu juga dengan Gunung Dempo. Pendaki yang sudah menapakkan kaki digunung ini biasanya akan tahu dengan keunikan dan ‘tradisi’ yang biasanya akan dijumpai saat mendaki Gunung Dempo.

Ketua Komunitas Shelter Dempo, Muhammad Ferdiyansyah, mengatakan Gunung Dempo memiliki karakteristik tersendiri yang akan membuat pendaki mendapatkan pengalaman unik dan berkesan saat mendakinya.

Berikut ini, lima keunikan yang akan ditemui pendaki saat berada di Gunung Dempo:

Terdapat 3 Jalur Pendakian

Untuk menuju ke puncak Gunung Dempo, terdapat 3 jalur pendakian yang tersedia dengan tingkat kesulitan yang berbeda. Meski begitu, saat ini baru 2 jalur saja yang ditetapkan sebagai jalur pendakian resmi.

Pertama, yakni jalur Kampung IV, jalur ini menjadi favorit pendaki khususnya bagi pemula. Sebab, trek pendakian di jalur ini terbilang landai dan memutar. Saat melalui jalur ini, pendaki akan menjumpai ‘dinding lemari’ atau sebuah tebing batu dengan bentuk yang rata menyerupai sebuah lemari dan memiliki ketinggian sekitar 5 meter.

Nantinya, setiap pendaki terlebih dahulu harus melewati ‘dinding lemari’ untuk kemudian melanjutkan perjalanan. Tak hanya itu, di jalur ini juga terdapat sebuah makam atau petilasan dari tetua warga Kampung Dempo, yang letaknya di area cadas.

Namun, karena trek pendakiannya memutar, pendaki membutuhkan waktu sekitar 9-10 jam untuk bisa tiba di puncak Gunung Dempo, dengan catatan tidak ada kendala berarti selama perjalanan.

Kedua, jalur Tugu Rimau, jalur ini biasanya lebih dipilih oleh pendaki yang sudah profesional. Sebab, saat naik melalui jalur Tugu Rimau pendaki hanya membutuhkan waktu 4-5 jam untuk bisa sampai di puncak.

Trek di jalur ini terbilang terjal dan tingkat kesulitannya lebih tinggi sehingga menuntut keterampilan dari pendaki. Saat melalui jalur ini maka pendaki akan melintasi ‘hutan mati’ atau hutan yang pada tahun 2016 mengalami kebakaran, namun hingga kini masih membekas. Letaknya berada di antara shelter 1 dan 2.

Lalu, yang ketiga yakni jalur Jarai. Jalur ini letaknya terpisah di sudut gunung berbeda dengan dua jalur sebelumnya. Jalur ini belum ditetapkan sebagai jalur pendakian resmi.

Lihat Juga :  Intensitas Hujan Tinggi, Jembatan Desa Dalam Belimbing Muaraenim Ambles

Alasanya, trek yang ada di jalur ini terbilang ekstrem dan berbahaya karena didominasi dengan tebing-tebing cadas. Selain itu, jalur ini juga dikenal sebagai habitat sejumlah hewan buas. Seperti harimau Sumatera.

Burung Jalak Hitam

Saat melintasi shelter 1, biasanya pendaki akan menjumpai burung jalak berwarna hitam. Uniknya, burung ini akan terus mengikuti pendaki sepanjang perjalanan hingga tiba puncak.

Cerita yang berkembang di kalangan pendaki menyebutkan jika burung tersebut merupakan perwujudan dari penjaga Gunung Dempo yang dapat mengetahui niat dari setiap pendaki.

Kumandangkan Azan

Cuaca di Gunung Dempo tidak dapat diprediksi karena selalu berubah-ubah hanya dalam beberapa menit. Seperti misalnya jalur pendakian dapat ditutupi oleh kabut yang cukup pekat, hingga membuat jarak pandang hanya sekitar 1 meter.

Hal semacam ini sering dialami pendaki, untuk itu biasanya pendaki akan mengkumandangkan azan. Menariknya, tak lama setelah azan dikumandangkan, kabut tersebut pun akan berangsur menghilang dengan sendirinya.

Gunung Dempo memiliki dua puncak, yakni dikenal dengan puncak Dempo dan Merapi. Nah, di tengah-tengah kedua puncak tersebut terdampat lembah yang dikenal sebagai pelataran. Tempat ini menjadi pilihan bagi pendaki untuk mendirikan tenda dan beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan ke puncak Merapi.

Ada sebuah tradisi dari pendaki saat hendak menuju pelataran dari puncak Dempo, yakni mengucapkan salam kepada sejumlah pendaki lainnya dari atas puncak Dempo tersebut. Menariknya, salam tersebut juga pasti akan selalu dijawab oleh para pendaki yang berada di pelataran.

Warna Air Kawah Selalu Berubah

Di puncak Gunung Dempo, tepatnya di daerah Merapi terdapat sebuah kawah vulkanik yang selalu dikunjungi para pendaki. Akan tetapi, warna air yang berada di kawah ini dapat berubah hanya dalam hitungan menit.

Di kalangan pendaki, terdapat 4 warna yang biasanya terlihat di kawah tersebut, yakni abu-abu, hijau tua, hijau tosca, dan biru. Nah, untuk warna terakhir tersebut dianggap langka dan hanya pendaki yang beruntung saja dapat melihatnya. (mala anindhita)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*