Demi Makam Sigentar Alam, Ia Rela Tinggalkan Jawadwipa Demi Sang Raja Andalas

Makam Raja Si Gentar Alam, Bukit Palembang. (FOTO: MALA ANINDHITA)

MATA-ANGIN.COM – Tubuh perempuan muda itu bergetar hebat. Keringat dingin keluar dari sekujur tubuhnya. Meski sedang sakit, suara perintah itu terdengar jelas di dalam telinganya. Sukiatun muda memang terserang demam tinggi pada 1957 silam.

Berulang-ulang suara yang terus terngiang-ngiang itu memerintahkannya untuk segera datang suatu daerah yang bernama Gubah Tinggi, yang saat ini dikenal dengan nama Bukit Siguntang.

Kala itu, Sukiatun tinggal dirumah seorang kakak ibunya di daerah 7 Ulu Palembang. Mulanya, sang Bude tidak percaya jika Sukiatun menceritakan pengalaman ghaibnya. Namun, kebulatan tekad wanita asal Kabupaten Pacitan, Jawa Timur ini pun berhasil memberikan pengertian dan meluluhkan hati sang Bude.

Akhirnya, dengan berjalan kaki, Sukiatun pun menembus hutan belantara menuju kawasan Gubah Tinggi, seperti yang diperintahkan kepadanya. Anehnya, dengan langkah mantap, Sukiatun seperti dibimbing menuju lokasi tersebut. “Saya sempat bertanya dengan penduduk sekitar. Ternyata, Gubah Tinggi itu merupakan daerah yang sangat keramat yang berada diatas bukit,” ujar Sukiatun membuka cerita.

Hampir satu hari satu malam, Sukiatun baru sampai ke lokasi yang dituju. Ditempat tersebut, memang ditemukan puluhan makam-makam keramat. Termasuk satu makam yang bernisan perunggu yang diketahui milik Iskandar Zulkarnain Syahalam atau yang dikenal dengan Radja Sigentar Alam. “Saat itulah, beliau meminta saya untuk menjaga makam ini, termasuk enam makam lainnya,” ujar Sukiatun saat disambangi di areal makam Raja Sigentar Alam, BukitSiguntang beberapa waktu lalu.

Sukiatun sendiri masih mampu menceritakan dengan jelas peristiwa tersebut hingga saat ini. Ia sendiri sebenarnya datang ke Palembang lantaran ingin ikut sang Bude, Fatimah. Usai menamatkan pendidikan Sekolah Rakyat (SR) di Pacitan, ia pun hijrah. Saat di Palembang pun ia sempat berjualan sayur untuk membantu keuangan Budenya.

Hingga suatu hari, disaat dirinya demam, sebuah petunjuk datang dalam mimpinya. “Ada sebuah kapal berkepala naga, berbendera Lancang Kuning Mahameru. Disana ada Radja Sigentar Alam yang meminta saya datang ke Gubah Tinggi,” kata wanita kelahiran 27 Juli 1937 ini.

Lihat Juga :  Isu PUBG Haram, 5 Game Ini Baiknya Juga Difatwa Haram Sekalian oleh MUI

Sukiatun pun menceritakan sedikit perawakan sang raja Andalas (sumatera) ini. Menurutnya, Iskandar merupakan orang yang bijaksana, memiliki badan yang tegap, berkulit hitam manis, berwibawa. “Jika memang bisa terlihat orang, semuanya akan kagum karena kharismanya,” ujar dia.

Hingga saat ini, Sukiatun mengaku masih sering dikunjungi sang raja dalam mimpinya. Satu hal yang paling diingatnya. Kewajiban untuk terus memberi kepada mereka yang membutuhkan. “Itu pesan beliau, dan selalu saya pegang teguh itu,” katanya.

Diusianya yang menginjak 77 tahun, kesehatan Sukiatun juga semakin menurun. Bahkan sejak Juni tahun lalu, ia sempat terkena stroke. Meski demikian, terapi dengan mengkonsumsi makanan herbal pun ia lakukan. Alhasil, ia masih tetap bisa melakukan aktivitasnya untuk membersihkan dan menjaga makam.

Keuletannya untuk menjaga keasrian makam, ternyata terdengar hingga Kerajaan Negeri Sembilan, Malaysia. Sukiatun pun sempat diundang pada 2005 lalu, sebagai tamu kehormatan dikerajaan tersebut. Sayangnya, hingga saat ini rangkulan pemerintah baik Provinsi maupun Kota Palembang belum dirasakannya. Bahkan, anak dari pasangan (alm) Ismorejo dan (almh) Sarpunah ini pun berharap agar seluruh kuncen yang ada di Taman Bukit Siguntang ini bisa merasakan sedikit bantuan.

Namun, karena jasanya membimbing setiap peziarah yang singgah dan berdoa di makam itulah, terkadang mendapat rezeki. “Ada saja yang membantu. Kita ikhlas bekerja disini hingga akhir hayat saya,” pungkasnya menutup cerita. (mala anindhita)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*