Bikin Haru, Mahasiswa Ini Naik Bukit Demi Cari Sinyal Untuk Wisuda Daring

Prosesi lempar topi toga usai wisuda (FOTO: ILUSTRASI)

MATA ANGIN, PADANG – Pagi ini, pemuda itu terlihat bergegas. Terlihat rapi mengenakan toga. Senyum sumringah tak pernah lepas dari bibir Ahmad Krismon (22).

Pemuda ini akan mengalami salah satu momen terbaik dalam hidupnya. Ia akan menjalani prosesi wisuda setelah dirinya menempuh pendidikan Diploma Tiga Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Imam Bonjol Bukittinggi.

Berbeda layaknya proses wisuda yang digelar di kampus, pandemi COVID-19 ini membuat proses sakral tersebut sedikit berbeda. Kegiatan itu berlangsung dengan metode daring. Ironisnya, kediaman Ahmad sedikit terkendala sinyal seluler.

Alhasil ia harus memutar otak agar tidak kehilangan momen manis dan rasa bahagia orang tuanya tetap terpancar dari raut wajah mereka.

Pagi itulah, dengan diantar oleh kakaknya menggunakan sepeda motor, ia menuju punggung perbukitan di kawasan “kelok HP” di Jorong Sungai Guntuang, Nagari Pasia Laweh, Kecamatan Palupuah Kabupaten Agam, Sumatera Barat, Kamis (27/8/20) pagi.

Berbekal baterai telepon pintarnya yang sudah dicharger sejak semalam, sebagai antisipasi agar saat sakral tersebut tidak kehabisan baterai mengingat lamanya proses seremonial wisuda tersebut. “Bahkan saya juga menyediakan power bank untuk berjaga jaga, siapa tahu ponsel saya mati,” ujarnya.

Setibanya di puncak bukit, tepat pukul 10.00 WIB, ia pun mengikuti secara khidmat proses yang diikuti lebih dari 1.000 wisudawan. Setelah nama Ahmad dipanggil pembawa acara melalui saluran daring, ia pun berdiri dan sang ayah, Nasir yang juga sejak pagi mendampingi, langsung memindahkan jambul toga layaknya wisuda pada umumnya.

Lihat Juga :  Rangkul Warga Terdampak COVID-19, Shelter Dempo Serukan Berdonasi

“Susah tapi mau bagaimana lagi, kondisinya sudah begini, namun tetap bahagia,” katanya sembari memeluk sang ayah.

Ahmad berhasil merampungkan pendidikan D3 nya dengan IPK 3,46 berpredikat sangat memuaskan. Usai merengkuh gelar ini, ia pun berkeyakinan untuk dapat memperoleh pekerjaan dan membahagiakan orang tuanya. “Bila perlu sembari bekerja, saya akan kembali sekolah yang sesuai dengan ilmu saya,” katanya.

Upaya Ahmad untuk mengikuti wisuda daring ini pun bukan tanpa alasan. Di daerah ini, satu-satunya lokasi yang ada sinyal seluler adalah kawasan yang dijuluki warga sebagai Kelok HP. Disini warga kerap kali memanfaatkan untuk bisa terkoneksi dengan dunia luar dengan internet. Kondisi ini kian diperlukan setelah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI menerapkan sekolah daring pascapandemi Covid-19.

“Tidak menjadi masalah. Yang penting kita usaha dan yakin jika akan tetap berhasil,” pungkasnya. (sidi sutan/net)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*