Battle of Coral Sea : Selamat Datang Era Pertempuran Kapal Induk

Foto Istimewa

Oleh: Prasta Kusuma

SETELAH menyerang markas Amerika di Pearl Harbour, tentara Jepang melanjutkan kampanye militernya di kawasan Pasifik Selatan. Demi memutus jalur komunikasi Australia dan sekutunya, maka target Jepang selanjutnya adalah menguasai seluruh wilayah Papua beserta daerah kepulauan di sekitarnya.

Pasukan Sekutu amat menyadari langkah Jepang ini. Maka Sekutu menyiagakan armada laut mereka yang dipimpin oleh US Navy di wilayah Coral Sea pada awal Mei 1942 untuk membendung serangan Jepang. Jepang sendiri sudah menguasai hampir seluruh wilayah tenggara Asia. Mereka mulai melakukan penaklukan wilayah timur Papua serta Kepulauan Solomon dalam usaha menghancurkan sisa-sisa armada laut Sekutu dan juga mengisolasi Australia yang menjadi salah satu pusat kekuatan Sekutu pascakekalahan mereka di wilayah tenggara Asia.

Puncak pertempuran Coral Sea terjadi pada 7 Mei 1942 antara angkatan laut Jepang melawan Sekutu. Yang unik dari pertempuran di Coral Sea ini adalah untuk pertama kali dalam sejarah pertempuran laut, kedua angkatan laut yang bertempur tidak lagi mengandalkan Battleship, namun mengandalkan kapal induk.

Jepang mengerahkan 2 kapal induk utamanya, IJN Zuikaku, Shohaku, beserta kapal induk ringan Shoho dibawah komando armada ke-4 AL Jepang yang dikomandoi oleh Laksamana Inouye. Sedangkan sekutu mengarahkan USS Yorktown dan Lexington yang berada dibawah komando Laksamana Flethcer yang tergabung dalam Taskforce 17. Kapal perang lain selain kapal induk hanya berperan sebagai pelindung bagi kapal induk dari masing-masing armada.

Foto Istimewa

Hingga 8 Mei, kedua belah pihak saling mencari dan menyerang kapal induk musuh melalui skadron-skadron pesawat tempurnya. Hasilnya bisa dikatakan hampir imbang. Jepang kehilangan kapal induk ringan Shoho dan Shokaku rusak parah. Beruntung bagi kapal induk Zuikaku dapat bersembunyi ditengah badai sehingga bisa terhindar dari serangan pesawat Amerika.

Lihat Juga :  Menikmati Sensasi Unik Lempah Kuning khas Pulau Bangka

Jepang sendiri mengalami kerugian sekitar 80-an pesawat tempurnya jatuh atau rusak sehingga kekuatan yang bertempur di Coral Sea ini tidak bisa ikut dalam serangan menentukan yang akan terjadi di kepulauan Midway pada bulan selanjutnya. Jepang juga kehilangan momentum untuk menyerang pasukan sekutu di Australia karena tidak bisa memenangkan pertempuran Coral Sea ini.

Amerika sendiri kehilangan kapal induk USS Lexington dan terjadi kerusakan parah pada USS Yorktown disamping kehilangan sekitar 69 pesawat tempur mereka. Namun, Yorktown secara ajaib dapat cepat diperbaiki sehingga dapat ikut serta dalam Battle of Midway yang menjadi malapetaka bagi armada Jepang dan mengubah jalannya pertempuran perang dunia kedua di wilayah teater Pasifik. (*)

Prasta Kusuma

Penulis merupakan alumni Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjajaran, pernah bekerja sebagai produser di beberapa radio di Bandung. Saat ini dirinya tengah merintis usaha dan jasa event organizer. Hobi menulis dan fotografi, serta kecintaannya terhadap kereta api tidak membuat dirinya berhenti berkeliling Indonesia.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*